Insomnia, Jokowi, and Lullaby

00.10 am is the time. For some reasons my head just refuses to give in to my exhausted body. For no matter how tired I am feeling right now, my brain keeps working and thinking, like a child on a sugar rush because she just had too much cake to eat. So I thought why not write my way to sleep?

I was thinking about a lot of things–that’s just the thing that I do. Among my thoughts is the recent news about Joko Widodo, the current governor of Jakarta, the capital of Indonesia, who finally declared his running for presidency.

What kind of person think about this type of thing at night?

My kind.

Judge me, ignore me, or whatever. I am trying to unload some things off of my head so that I can sleep. Okay.

So.

Akhirnya rumor dan spekulasi berakhir mengenai pencalonan Jokowi menjadi presiden. Dengan diumumkannya Jokowi sebagai calon presiden dari PDI-P, setidaknya ada 2 opini yang terbentuk di masyarakat. Tentunya ada yang setuju dan ada yang tidak setuju dengan pencalonan Jokowi jadi presiden. Berdasarkan pengamatan dan perbincangan gue dengan teman-teman, baik yang dari Jakarta ataupun di daerah, gue melihat ada pola yang sama dari alasan-alasan pro dan kontra tersebut. Dan beberapa alasan tersebut pengen gue bahas disini, khususnya alasan dari mereka yang tidak setuju Jokowi mencalonkan diri jadi presiden.

1. Jokowi belum terbukti kualitasnya sebagai pemimpin

Alasan ini adalah sesuatu yang sangat wajar jika dikemukakan oleh banyak orang. Pasalnya Jokowi menjadi gubernur Jakarta pun belum sampai setengah periode. Jakarta masih banjir, masih macet, masih kumuh, masih sumpek, masih kotor, masih tidak aman, dan masih banyak masih-masih lainnya yang masih perlu dibenahi di Jakarta. Sebagai rakyat yang pintar, tentu kita harus minta bukti dong… Umumnya pasti banyak yang bilang “ahhh, Jakarta aja belum beres, gimana mau ngurusin Indonesia?”

Menurut gue, orang-orang yang mengatakan ini lupa bahwa sebelumnya Jokowi sudah pernah menjadi walikota Solo dengan rapor gemilang. Gue tahu pasti akan banyak juga yang akan berargumen bahwa menjadi walikota Solo ga sama lah dengan jadi gubernur Jakarta atau presiden Indonesia! Right. Memang masih banyak hal yang perlu dibenahi dari Jakarta, bahkan menurut gue pribadi, at least Jokowi harus jadi gubernur selama 2 periode baru kita bisa melihat perubahan yang signifikan di Jakarta.

Tapi, sekalipun “Jakarta Baru” belum tercapai sepenuhnya, secara mikro gue sendiri telah merasakan dampak positif dari program Jokowi selama menjadi gubernur Jakarta.

Sebagai pengguna TransJakarta, gue merasa pelayanannya meningkat dibandingkan 2 tahun yang lalu.

Sebagai pendatang dari daerah yang mengurus KTP pindahan ke Jakarta, gue melihat tidak ada lagi sistem “tembak” untuk mendapatkan KTP tersebut, artinya sekalipun gue harus repot mengurus dokumen ini itu, setidaknya prosedur yang benar sedang diterapkan sampai ditingkat bawah.

Sebagai pekerja di bidang sosial yang sering berurusan dengan pemerintah, gue mengalami adanya kepastian birokrasi dari kantor gubernur DKI Jakarta.

Jadi, bisa gue simpulkan bahwa tujuan akhir Jokowi sebagai gubernur Jakarta belum tercapai, tapi gue yakin bahwa we are on the right track.

Now. Balik lagi ke argumen bahwa Jokowi belum terbukti…

Okay. Kalau ada dari kalian yang bisa ngasih gue satu nama calon presiden yang sudah terbukti bisa memimpin Indonesia dengan baik dan membawa rakyatnya pada kemakmuran dan menaikkan nama Indonesia di kancah internasional… I will choose her or him in a heart beat.

2. Masa jabatan sebagai gubernur Jakarta belum selesai, nanti Program Jakarta Barunya mandeg lagi

Alasan ini pastinya datang dari mereka yang berdomisili di Jakarta dan sekitarnya. Dulu, sebelum deklarasi oleh Megawati, gue sangat setuju dengan alasan ini. Karena gue melihat bahwa sedikit demi sedikit, program Jokowi sudah berefek baik untuk Jakarta, bayangin aja kalau dia bisa menyelesaikan masa jabatannya, gue yakin banyak hal yang akan berubah drastis dari ibukota.

Gue mengerti dengan kekhawatiran para warga Jakarta. Cuma, kalian sadar gak sih kalau Jokowi jadi presiden, toh tinggalnya masih di Jakarta juga, tinggal jalan dikit, udah nyampe balai kota. Dan dengan menjadi presiden, tentunya DKI Jakarta akan jadi prioritas juga dong?

Jangan lupa juga bahwa program Jakarta Baru bukan program Jokowi, tapi program rakyat. Pada akhirnya yang berperan untuk mewujudkannya juga kita toh?

Lagian, gue menaruh harapan besar di Ahok. Gue yakin dia bisa melanjutkan langkah Jokowi dengan baik.

3. Jokowi mau-mau aja ditunggangi partai

Mungkin banyak yang kecewa melihat pemimpin sebaik Jokowi ternyata termakan juga sama rayuan politik partai. Langkah Jokowi ini dinilai negatif oleh rakyat luas karena image partai di Indonesia yang pada dasarnya sudah bobrok.

Hmm. Asumsi gue, orang-orang yang berpendapat ini adalah orang yang idealis dan selalu berpandangan bahwa politik itu kotor, jadi partai politik juga kotor, dan orang-orang yang terlibat di dalamnya juga sama kotor.

Sebagai seorang lulusan dari bidang politik, let me tell you something. Sometimes, sometimes, the ends justify the means. Kenapa tidak ada yang berpikiran bahwa Jokowi yang menunggangi partai, bukan sebaliknya, untuk mencapai tujuan yang baik bagi bangsa ini?

Kalaupun memang benar Jokowi “ditunggangi”, sekarang siapa coba calon yang ga “ditunggangi” partai? Calon independen tidak ada. Kalaupun ada, biasanya yang independen akan kalah power dibanding yang di-backing partai.

Anyway. Kira-kira itulah tiga alasan utama yang sering gue dengar dari orang-orang yang kontra dengan pencalonan Jokowi sebagai presiden. Alasan-alasan yang menurut gue tidak berlandaskan argumen yang kuat. Karena buat gue, memilih presiden untuk Indonesia ini adalah memilih yang terbaik dari antara yang kurang baik. Semua calon ada kelebihan dan kekurangan, dan alasan-alasan di atas semuanya bisa juga dipakai untuk mempertanyakan kandidat lain. Dan kalau boleh gue berpendapat, itu adalah alasan yang agak egois dari banyak warga Jakarta, karena tidak mau membagi pemimpin yang baik dengan seluruh rakyat Indonesia.

Gue sendiri merasa senang bahwa Jokowi memutuskan untuk nyapres. He has been a beacon of hope for Indonesia. A person who restores our faith to our country. Someone who shows that there are good people who wants to do something better for Indonesia. That not everyone who goes into politics only care about the money and corruption and manipulation and all the bad things people associate with politics.

Jokowi menunjukkan bahwa menjadi pemimpin itu artinya melayani rakyat. Beda jauh dengan kebanyakan pemimpin kita yang hanya melayani kaum elitis.

Mungkin gue akan milih Jokowi, mungkin tidak. Semuanya tergantung, karena politik adalah sesuatu yang dinamis. Dalam politik, tidak ada kawan atau lawan abadi, hanya kepentingan abadi.

Well. It has been such a long post. It’s 1.55 am now. I need to wrap this up. Sorry for this long random ramble. Probably nobody is going to read this anyways, in this hour. So. Good night.

“Send me some sweet lullabies, to escort me to dreams and beyond.”

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s